Andreas, Papua dan TNI
August 20th, 2008
Sebuah paper ditulis oleh Andreas Hartono dan Eben Kirksey dimuat di jurnal South East Asia Research dengan judul “ Criminal collaborations? Antonius Wamang and the Indonesian military in Timika”. Intinya menggugat hasil penyelidikan FBI terutama yang menyangkut keterlibatan TNI di kasus penembakan staf Freeport di Mile 63, jalan antara Tembagapura dan Timika.
Dengan runtutan kronologis yang prima, paper tersebutberceritera banyak tentang kisah dibalik peristiwa tersebut. Beruntun bukti bukti dan kecurigaan dibeberkan. Dan saya melihat kecurigaan tersebut sah adanya.
Disayangkan paper tersebut tidak memuat beberapa move oleh Patsy Spear sewaktu berkunjung ke Jakarta dan bertemu dengan Pak Beye. Termasuk statement terbuka yang disebarkan kepada wartawan.
Link terakhir paper tersebut hanya berceritera tentang gerakan Taufik Kiemas me-lobby Capitol Hills dengan meng-hire beberapa lobby group di Washington. Entah sengaja entah tidak, rentang waktu analisis berhenti di sana.
Mereka yang jeli tentunya akan melacak lebih jauh siapa yang berada di garis komando TNI saat peristiwa itu terjadi. Dan juga selayaknya rekam jejak lainnya dijalur Kepolisian, BIN dan BAIS.
Paper ini jelas akan membuka luka lama. Mungkin akan sedikit merepotkan diplomasi Indonesia dengan Kongres AS saat ini. Masalahnya sekarang, apakah waktunya tepat. Karena beberapa nama yang diduga terlibat jelas akan maju sebagai calon-calon pemimpin bangsa tahun depan. Dan investigasi mendalam tentang mereka jelas akan terangkat ke permukaan sewaktu kampanye dimulai.
Ada satu hal yang penting untuk dicatat. Keinginan politik pemerintah yang sekarang berkuasa untuk menuntaskan masalah ini. Masalah menjadi runyam ketika jalur komando mendadak tidak jelas. Ketika perseorang berbicara atas nama institusi. Dan ketika perintah seorang Presiden bisa dirubah, diplintir, ditunda dan bahkan dinafikkan oleh lembaga yang berada di bawah jajarannya. Political will adalah kata kunci disini. Apakah Pak Beye memilikinya ? Jawabannya sudah cukup jelas. Lihat saja arsip berita di bawah ini.
Berikut arsip berita tentang Patsy Spear di website SBY :
Senin, 16 Januari 2006, 14:45:04 WIB
Presiden Terima Janda Karyawan Freeport
Jakarta: Patsy Spear, janda Rickey Spear salah satu dari tiga korban meninggal karena ditembak di Jalur Tembagapura – Timika, Papua tanggal 31 Agustus 2002, Senin (16/1) diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor kepresidenan. Patsy datang didampingi Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Lynn Pascoe.
Pertemuan Patsy dengan Presiden ini adalah pertemuan mereka yang kedua. Sebelumnya, bulan Mei 2005, Presiden pernah bertemu dengan Patsy di Washington DC, ketika Presiden mengadakan kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Saat itu Patsy adalah orang pertama yang dijumpai Presiden sesampainya di Washington DC.
Menurut Presiden, pertemuan pertamanya dengan Patsy memberikan motifasi kepada pemerintah Indonesia untuk segera menuntaskan kasus penembakan tiga orang karyawan PT. Freeport ini. Presiden juga mengucapkan kekaguman pada kegigihan Patsy membantu Kepolisian RI dan FBI dalam mengungkap kasus ini.
Patsy mengucapkan terimakasih dan mengungkapkan kelegaannya, karena tersangka Anthonius Wamang dan beberapa tersangka lainnya sudah ditahan dan akan segera menjalani proses hukum. Dalam kesempatan ini Patsy juga menyampaikan surat berisi ucapan terimakasih kepada Presiden RI dari Happy Riwanto, janda Bambang Riwanto, WNI yang menjadi korban dalam insiden itu.
Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto yang ikut mendampingi Presiden SBY dalam pertemuan ini mengatakan, Antonius Wamang dan 7 orang temannya yang dijadikan tersangka akan segera diadili di Jakarta, Ditambahkan, alasan dipilihnya Jakarta untuk mengadili para tersangka karena banyak saksi yang nantinya akan didatangkan dari Amerika Serikat.
Entry Filed under: Uncategorized
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed