Ambalat dan Pilpres 2009

April 20th, 2009

Menurut VivaNews, cadangan minyak besar telah ditemukan di perairan Ambalat. Kapasitasnya katanya bisa mencapai 30-40 ribu barel per hari. Yang menemukan adalah Eni Spa, perusahaan migas milik pemerintah Italia,  pada blok Aster yang dikelolanya. Kalau tes dan uji coba berhasil, produksi bisa dimulai tahun 2010.

Menarik untuk membahas blok ini, karena letaknya yang berdekatan dengan perbatasan Malaysia. Wilayah ini juga sensitif, karena pernah terjadi gesekan-gesekan di laut terkait dengan batas mana yang dipergunakan. Apakah versi Malaysia atau versi Indonesia.

Memang, sebelum Pulau Sipadan dan Ligitan dimenangkan oleh Malaysia di Mahkamah Internasional, perbatasan kedua negara adalah garis lurus dari Barat ke Timur ke arah Sulawesi tepat pada titik yang membelah pulau Sebatik menjadi dua bagian. Setelah dua pulau itu direbut oleh Malaysia, selayaknyalah perbatasan itu diperbaiki dengan memberikan tambahan lingkaran 20 mil laut seputar ke dua pulau tersebut.

Kenyataannya ternyata tidaklah demikian. Malaysia ngotot meminta garis perbatasan itu turun 45 derajat arah Timur Laut selepas Pulau Sebatik ke arah Sulawesi. Alasannya ? Ya karena kedua pulau yang baru mereka dapatkan dari Mahkamah Internasional itu. Garis itu memasuki wilayah blok yang sekarang sedang dikembangkan oleh Eni.

Pemerintah tidak tinggal diam. Satu skuadron F-16 disiapkan di Balikpapan, jajaran Sukhoi juga sudah dirapatkan di Makassar. Dan 6 kapal perang termasuk yang baru saja datang dari Belanda dikirimkan untuk menjaga perbatasan di sana. Termasuk juga penambahan jumlah pasukan yang diirimkan via laut untuk bermarkas di Pulau Tarakan dan Sebatik.

Pengerahan kekuatan militer itu memberikan sinyal kepada negara jiran untuk tidak main-main lagi dengan Indonesia. Petinggi Eni Spa dari Itali juga sudah pernah bertemu dengan Pak Beye dan mendapatkan dukungan penuh. Indonesia lelah bermain-main dengan Mahkamah Internasional dan mengikuti langkah Malaysia dulu untuk menguasai Pulau Sipadan dan Ligitan.

Mula-mula mengirimkan nelayan untuk singgah. Begitu tidak ada reaksi, membuat pemukiman nelayan. Tidak ada reaksi juga, buat mercu suar dan plakat tapal batas. Beres urusan. Sisanya tinggal bersilat lidah di mahkamah ruang sudang internasional. Langkah ini juga pernah ditiru oleh Singapura sewaktu menguasai pulau Preda Branca (atau Batu Puteh versi Malaysia) yang jaraknya berlipat lipat Singapura - Batam pp.

Kali ini Indonesia mengirimkan pengeboran lepas pantai bekerjasama dengan Eni. Rig itu ketika beroparsi nanti akan mengerek tinggi-tinggi sang saka Merah Putih di perairan Ambalat sana. Lengkap dengan armada kapal perang paling canggih milik negeri. … siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membelaaaaa ….. Ini penting untuk menunjukan secara de facto bahwa wilayah tersebut adalah milik Ibu Pertiwi.

Indonesia sudah capek dengan pat gulipat seperti sebelumnya. Kali ini, alih-alih bernegosiasi di meja internasional, Ambalat harus diduduki terlebih dahulu. Negosiasi belakangan saja.

Tahun ini adalah tahun politik bagi Indonesia. Pemilihan presiden akan dilakukan dalam 3 bulan lagi. Dan Ambalat, terus terang menarik untuk dijadikan objek politik.

Ketika sebuah bangsa terpecah belah oleh isu domestik, diperlukan musuh dari luar untuk menjaga persatuan, mengikis perbedaan, meningkatkan rasa kebangsaan, dan memberikan dukungan luar biasa bagi sang pemimpin negeri.

Jadi jangan heran kalau isu Ambalat akan menjadi hot spot dalam 3 bulan mendatang.  Mungkin perlu juga dikunjungi dengan kapal perang sekali lagi seperti waktu itu. Sekaedar nostalgia sambil melihat pulau-pulau terluar negeri ini. Dijamin akan cakep sekali gambar dan beritanya.

Ngung ….

Salam Sang Patih untuk negeri Majapahit.

Entry Filed under: Bisik bisik, Kantin, Koridor kekuasaan, Pers dkk

Leave a Comment

Required

Required, hidden

kalkun

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

Links

Recent Comments

Feedburner

Tags

Pages